kurniawangunadi

Tulisan : Mereka yang Belajar dari Kesalahan

Pada saat menjalani kehidupan kita masing-masing. Mungkin kita pernah berselisih dengan seseorang. Pernah menyimpan kekesalan dan kekecewaan. Pernah merasa dikhianati atau ditinggalkan tanpa alasan. Pernah dibohongi bahkan mungkin dijauhi. Hingga hubungan kita dengan orang tersebut sempat hilang beberapa lama, mungkin dalam hitungan tahun.

Dulu sewaktu muda terutama. Sewaktu emosi masih pada tahap pematangan. Sewaktu pikiran belum sepenuhnya berpijak. Sebelum kebijaksanaan hidup menghampiri. Sewaktu logika masih pendek. Sewaktu perasaan masih mendominasi.

Hingga pada suatu ketika, direntang waktu yang cukup lama kita kembali dipertemukan dengan orang-orang tersebut. Sejatinya kita tidak lagi benci, hanya sungkan saja ingin menyapa. Ada perasaan tidak enak. Ada perasaan enggan.

Saya percaya bahwa waktu turut mengubah seseorang. Orang yang dulu berbuat tidak baik kepada kita telah berubah. Orang yang dulu meninggalkan kita telah berubah. Orang yang dulu menyakiti kita telah berubah. Banyak yang telah menjadi orang baik, diantara mereka banyak yang telah menjadi bijaksana. Diantara mereka banyak yang telah mencapai banyak hal sementara kita sendiri tertinggal jauh.

Haruskah kita tetap membencinya? Mungkin perasaan ini bukanlah benci, hanya enggan untuk menyambung silaturahmi. Atau mungkin malu mengakui bahwa kita telah memaafkannya dan memulai silaturahmi.

Mereka adalah orang-orang yang berhasil belajar dari kesalahan. Kita tidak lagi bisa menyamakan mereka dengan beberapa tahun belakangan. Ketika dulu mereka membuat kesalahan, terutama kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang berhasil keluar dari pikiran mereka tentang masalahnya. Bergerak sedemikian cepat untuk memperbaiki diri. Sementara kita mungkin masih menyimpan dengki, membuat kita terkurung pada prasangka tersebut dan menjadi lamban bergerak.

Harus kita akui. Memang mereka memiliki kesalahan kepada kita di masa sebelumnya. Ketika kita masih sama-sama muda, sama-sama emosional. Dan mereka telah belajar dari kesalahan sehingga membentuk mereka yang seperti sekarang. Begitu mengagumkan. Dan kita sungguh tidak bisa menilai mereka hanya karena kesalahannya di masa lalu kepada kita.

Ketika kita mampu menyadari itu semua. Kita telah belajar menjadi selangkah bijaksana. Memaafkan dan mengakui bahwa kita tidak belajar lebih banyak dari mereka. Dan kita tertinggal beberapa langkah.

Rumah, 28 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin :)

?

Saya akui Pak Prabowo Subianto bersalah ketika beliau berpidato dan mengucapkan dengan lantang bahwa Indonesia adalah negara yang bodoh. Saya tau Prabowo adalah orang yang cerdas, tidak mungkin beliau mengucap kata tersebut tanpa ada tujuannya.

Saya akui orang di belakang Prabowo, Aburizal Bakrie, Suryadarma Ali dan bahkan Hatta Rajasa adalah orang orang yang bermasalah. Lapindo, korupsi dana haji hingga indikasi mafia migas.

Saya akui Amien Rais kurang tepat mengibaratkan pilpres seperti perang badar. Pilpres bukan perang, kan?

Namun saya pun juga mengakui bahwa Prabowo adalah orang yang paling setia dengan Indonesia. Prabowo adalah orang yang setia dengan Soeharto ketika masa kepemimpinan Soeharto. Prabowo adalah yang memuallafkan Soeharto dan membuat Soeharto mesra dengan agama Islam. Prabowo yang membela agama Islam ketika zaman orde baru. Zaman ketika Islam tidak sebebas beribadah seperti saat ini, tidak ada yang memakai kerudung, kalopun ada itu hanya sedikit (guru TK dan SD saya semuanya memakai jilbab haha). Prabowo dan Soeharto yang dibenci habis habis an oleh Leornardus Benny Moerdani (FYI beliau adalah orang anti Islam yang ingin menggulingkan Soeharto dan menghancurkan Prabowo karena kekuatan Islam), Luhut Panjaitan dan Hendropiyono (Antek LB Moerdani yang sekarang kedua orang ini ada di kubu Jokowi). Prabowo yang menyelamatkan TKI dari hukuman mati. Gus Dur aja pernah bilang kalo Prabowo adalah orang yang paling ikhlas. Iya ikhlas, tidak akan ada orang yang pernah tau perjuangan beliau, bahkan saya. Karena keislamannya lah saya berpihak kepada Prabowo. Tidak sedangkal yang seperti orang kira, Prabowo tegas, saya rasa Jokowi dan JK juga bisa tegas. Prabowo orang baik, Jokowi dan JK insya Allah juga orang yang baik.

Saya sangat mengakui keburukan Prabowo dan orang orang di belakangnya. Adakah di antara kita yang mampu berlapang dada mengakui keburukan Jokowi dan JK?

Tokoh teladan bagi kita semua adalah ke dua puluh lima Nabi, sahabat-sahabat Nabi yang termasuk orang-orang mukmin zaman dahulu, maka dari itulah penting nya kita memahami sejarah sejarah Nabi karena dari situ kita bisa mengambil begitu banyak pelajaran dan hikmah :))
Selain itu, orang terdekat saya yang saya jadikan panutan adalah ayah dan ibu saya serta abang saya. Ketiga orang ini adalah orang yang memiliki pengaruh terbesar untuk kehidupan saya, mereka yang mengajari saya berbagai hal yang sebelumnya saya tidak tau dan menjadi tau. Untuk seorang sahabat sendiri, saya mempunyai begitu banyak teman yang saya temui di saat masa sekolah saya hingga saya kuliah, mereka adalah teman yang baik bagi saya, mendukung saya dan mengingatkan saya ketika saya salah, namun untuk dijadikan guru atau teladan, hingga saat ini saya masih belum menemukannya. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah berkumpullah kita dengan orang orang sholeh dan sholehah, bukan hanya sekedar orang yang baik hati, karena itu adalah sunnah dan sedikit banyak itu akan mempengaruhi kehidupan kita. Semoga Allah mempertemukan kita dengan orang orang yang juga termasuk dalam jama’ah Allah. Aamiin :))

Tokoh teladan bagi kita semua adalah ke dua puluh lima Nabi, sahabat-sahabat Nabi yang termasuk orang-orang mukmin zaman dahulu, maka dari itulah penting nya kita memahami sejarah sejarah Nabi karena dari situ kita bisa mengambil begitu banyak pelajaran dan hikmah :))
Selain itu, orang terdekat saya yang saya jadikan panutan adalah ayah dan ibu saya serta abang saya. Ketiga orang ini adalah orang yang memiliki pengaruh terbesar untuk kehidupan saya, mereka yang mengajari saya berbagai hal yang sebelumnya saya tidak tau dan menjadi tau. Untuk seorang sahabat sendiri, saya mempunyai begitu banyak teman yang saya temui di saat masa sekolah saya hingga saya kuliah, mereka adalah teman yang baik bagi saya, mendukung saya dan mengingatkan saya ketika saya salah, namun untuk dijadikan guru atau teladan, hingga saat ini saya masih belum menemukannya. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah berkumpullah kita dengan orang orang sholeh dan sholehah, bukan hanya sekedar orang yang baik hati, karena itu adalah sunnah dan sedikit banyak itu akan mempengaruhi kehidupan kita. Semoga Allah mempertemukan kita dengan orang orang yang juga termasuk dalam jama’ah Allah. Aamiin :))

Kadang kita menolak percaya dengan media, artikel, berita dan buku ketika sumber-sumber tersebut bertolak belakang dengan idealis kita, bahkan kita seperti buta dan tuli. Tetapi, jika kita menolak percaya akan sumber sumber yang berlandaskan agama Islam, Al Quran, sunnah dan hadits maka kita sangat perlu bercermin dengan cermin paling besar dan introspeksi diri.
Tempo hari saya membaca tweet Faldo Maldini, dia melakukan gerakan unfollow artis dan pendukung Jokowi yang anarki di timeline Twitter. Saya setuju dengan gerakan ini, namun bukan berarti Faldo Maldini adalah seorang yang pro Prabowo, saya pun tidak tau dia berpihak kepada siapa karena menurut saya itu tidak penting. Di timeline Twitter saya, ada dua public figure pendukung Jokowi yang anarki, Dennis Adhiswara dan Joko Anwar. Berbagai tweet yang menurut saya kontroversial sekali sejak hari pertama kampanye, debat capres dan cawapres hingga penghitungan suara di KPU. Menurut saya tweet mereka pun seolah seolah benar tapi ternyata tidak, hanya penggunaan kata-kata yang sangat berlebihan dan menyerang secara emosional. Selain itu, artis youtube, Aron Ashab juga bikin sensasi men tweet perkataan berupa cacian kepada Bapak Prabowo Subianto. Hal hal seperti ini yang sangat menimbulkan perpecahan. Artis juga manusia, tapi se manusia manusianya manusia dia harus bisa memilah yang mana yang manusiawi dan yang mana yang tidak, itulah manusia, manusia punya akal dan kepintaran. Pro Jokowi atau Pro Prabowo sangat diperbolehkan daripada tidak berpihak sama sekali, ya kan? Pro boleh tapi jangan provoke.
Teringat diskusi waktu saya masih mahasiswa semester dua dengan sahabat saya, yaitu tentang akhir sebuah zaman. Seingat saya sahabat saya ini mengungkapkan bahwa terdapat empat masa dalam sebuah zaman. Dan saat ini kita sedang berada di masa yang paling akhir, masa ke empat. Saya teringat kembali pelajaran agama Islam waktu SD, SMP dan SMA, bahwa tanda tanda kiamat kubra adalah kiamat sughra seperti banyaknya terjadi bencana alam. Bahkan seingat saya tanda akhir zaman adalah kembalinya sebuah zaman seperti zaman Nabi Luth yang sedang maraknya percintaan antara sesama jenis. Naudzubillah.
Peringatan-peringatan tersebut seharusnya semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Ber husnudzan lah kita kaum mukmin bahwa Allah akan menunda kiamat besarnya ketika kita masih mendengarkan adzan berkumandang, masih membaca Al Quran, masih bersujud di atas sajadah, masih menyebut nama Allah berulang kali.
Matikanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah dan jangan matikan kami ketika datangnya hari kiamat. Aamiin.