One night in my room, i tried to close my eyes. Then i did it, tried to sleep. But when i did, i saw everything i don’t wanna see. I prefer awake all the time. Because when i close my eyes and everything is getting dark, it’s like i can see what i don’t see in the real life. Sometimes it makes me scared, then i choose to open my eyes widely. And i only see what i see in front of me. I am afraid of the unlimited things. Sometimes it actually makes us feel the limitations, eventually.
false
I did not have a Saturday night like they did. Had a romantic dinner with their boy or girlfriends, chilled out with the girls, night shopping or something. I was just at home, sit on the couch with my sister, my mother, my dad in the living room. Watched tv, ate dinner on the dining table then i wore my warm sweater, lay on the bed under the thick blanket and read a great book.
Oh God i swear it that was the greatest Saturday night i’ve ever done.
muthiavauqueline
Ada orang yang memberi hormat dengan mengangkat tangan, ada orang yang memberi hormat dengan berdiri tegap, ada orang yang memberi hormat dengan membungkuk, ada orang yang memberi hormat dengan sujud, ada orang yang memberi hormat dengan duduk bersimpuh di atas kedua kaki, ada orang yang memberi hormat dengan memberi salam. Dalam shalat, kita melakukan semuanya.

Tempo hari saya mendapat sebuah cerita dari kawan saya. Yang singkat cerita teman saya ini mengobrol santai dengan Pembantu Dekan II salah satu fakultas di kampus saya yang kebetulan bukan dari Fakultas Teknik. Pembicaraan itu mengenai begitu banyaknya mahasiswa yang meminta penurunan SPP, dan pengajuan-pengajuan penurunan SPP itu diterima semua oleh PD II dengan alasan beliau ngga tega. Beliau pun berkata bahwa akan terjadi penurunan kualitas pelayanan kampus jika hampir seluruh mahasiswa baru mengajukan penurunan SPP kuliah. Padahal sistem penurunan SPP di kampus saya hanya diturunkan 1 kategori saja yang per kategori nya hanya selisih satu juta rupiah. Saya sendiri belum tau pasti pelayanan yang mana yang diturunkan namun saya pikir, ini kampus sudah gila kali ya, bisa mematok sebuah indikator dan ukuran pelayanan pendidikan hanya dengan tolok ukur uang. Mungkin ini juga bisa terjadi di kampus-kampus lain di Indonesia. Mengukur pendidikan yang berbanding lurus dengan materi. Lantas, apa gunanya ada menteri pendidikan kalo kampus-kampus masih kaya begini. Saya yakin lebih banyak orang miskin daripada orang kaya di Indonesia, pasti lebih dari 60 persen orang di Indonesia adalah orang miskin, trus masa pendidikan di Indonesia mau ikutan miskin juga? Gila apa ya. Padahal dari jaman SD saya diajarin di pelajaran PPKN bahwa negara kita ini sedang dijajah oleh kemiskinan dan kebodohan. Ya pantas saja, orang pendidikan nya masih model begitu. Jika dikaitkan dengan SPP di kampus saya yang hanya diturunkan satu kategori pun itu juga masih termasuk mahal menurut saya, ditambah mahasiswa baru di kampus saya terkenal paling banyak, masih kurang aja apa ya. Saya mahasiswa tingkat akhir banget yang Alhamdulillah SPP saya sedikit dan ditambah 15% karena kebijakan SPP Progresif bagi mahasiswa yang kuliah lebih dari 4 tahun, dan ngga terlalu banyak nambahnya dan ngga kerasa juga. Tapi saya juga mikirin mahasiswa-mahasiswa yang lain yang mungkin tidak seberuntung saya. Semoga kualitas pendidikan di Indonesia semakin membaik dengan mengusung konsep yes education no money hahaha.