felice-atmadja

felice-atmadja:

Dearest My Ayu Dyah Permatasari, 

Selamat ulang tahun sahabat kesayanganku. Maaf kemarin tidak bisa menghadiri semhasmu ya, tapi doaku selalu kuusahakan sampai menyertai Ayong. Hari ini tanggal 23 Agustus 2014, kita nggak bisa main surprise-surprise-an lagi. Hari ini juga kita tidak bisa bertemu, tidak bisa melewatkan waktu bersama-sama seperti biasanya. Hari ini cuma doa dan kenangan-kenangan lama kita yang bisa kujadikan hadiah. 

Dari Ayong aku selalu belajar banyak lho. Aku belajar buat mengerti keadaan orang lain, aku belajar buat selalu introspeksi diri, aku juga belajar untuk tidak menghakimi siapapun karena kita tidak pernah tahu keadaan mereka. Aku pun belajar bagaimana caranya kita tidak terlarut dalam kesedihan. Terima kasih ya Ayong, kamu dan Icha selalu ada dan kita selalu saling menguatkan satu sama lain. Ternyata hari ini, kita semua sudah 22 tahun. Kita sudah dewasa, lebih dewasa dari masa-masa dimana kita semua sekelas DA 3 dan hobi rewel plus galau. Ternyata mendewasa itu artinya maju ke depan sambil sesekali mengenang ke belakang dengan rindu. Karena seburuk apapun kita kemarin, hari ini kita sudah beberapa langkah maju ke depan. Dan kita akan terus maju.

Doaku buat Ayong, semoga selalu menjadi muslimah yang solehah, yang bisa menghargai orang-orang di sekitarnya, selalu punya pendirian seperti sekarang, bisa membanggakan Ayah Mama dan Bunga, lulus dalam waktu sesingkat-singkatnya dengan hasil yang sebaik-baiknya. And last but not least… selalu jadi sahabat sama Felice ya, bahkan sampai ulang tahun yang ke 50 dan seterusnya.

"Orang yang sayang sama Ayong itu bukan orang yang selalu memuji Ayong di depan. Orang yang sayang sama Ayong itu orang yang mau ngomongin kekurangan Ayong di depan." 

Selamat 22 tahun Ayu Dyah Permatasari. I love you, no matter what and no matter how far we are now. 

Always yours, 
Felice Surya Atmadja.

Teringat pesan dari Almarhum dosen saya, beliau pernah berkata, “kalian ini jangan jadi generasi penerus bangsa, tapi jadilah generasi pengubah bangsa!” Dan kemarin sore terjadi diskusi dengan sahabat saya tentang berpikir secara idealis, saya berkata, “mumpung jadi mahasiswa, mikirnya idealis, ntar kalo udah lulus, udah gabisa idealis.” teman saya berkata, “itu pemikiran yang salah, kita gabisa idealis karena kita mengikuti generasi zaman ini. Yang harus dilakukan adalah kita harus meng ‘cut’ generasi yang sekarang, dan menggantikan dengan generasi yang seperti kita ini, generasi yang baru, yang mampu mengubah bangsa.”
marisasugangga

kuntawiaji:

Tubuh kita berisi organ-organ dalam yang tidak sedap dipandang mata, tetapi Allah menutupnya. Hati dan pikiran kita seringkali berisi niat busuk mengenai orang lain, tetapi Allah menutupnya. Masa lalu kita penuh berisi aib yang dapat merendahkan nilai diri kita di hadapan orang lain, tetapi Allah menutupnya. Allah menutup semuanya, yang ada di diri kita dan di diri orang lain. Jika Allah saja menutupnya, kenapa kita suka sekali membuka aib orang lain?

"Jangan sampai ucapan-ucapan kita, walaupun benar, membuka aib orang lain." (Quraish Shihab)

Mungkin engkau boleh menyakiti hati sesiapapun wanita yang ingin kalian sakiti. Mungkin engkau pernah mencaci sesiapapun perempuan yang ingin engkau caci. Tapi ketika sedikit dan sekali engkau berkata “ah!” kepada perempuan yang bernama ibu, jangan harap surga berpihak padamu.
Ada orang orang yang wajib kita muliakan di dunia ini melebihi apapun, mereka adalah ibu, ibu, ibu dan ayah. Dan siapapun ibu kita, ia adalah orang yang paling diberi ridhoNya. Dan apapun yang seorang ibu lakukan adalah ia tetap ibu. Ibu bagaikan rahmat berjalan untuk anak anaknya. Dan manusia yang paling baik akhlaknya adalah yang paling memuliakan ibunya di antara manusia-manusia yang lain yang ia muliakan juga.